Bisnis

header ads

Puisi: Kucing Berwarna Biru (Karya Afrizal Malna)

Kucing Berwarna Biru

Sudah tiga malam ini seekor kucing sakit, selalu tidur 
di depan pintu rumah saya. Ia mengeluh dan mengerang. 
Suaranya seperti keluar dari rumpun gelap di halaman 
rumah. Kadang seperti makhluk halus yang sedang 
membuat perjanjian dengan pohon nangka di halaman 
rumah saya. Orang bilang kucing itu kena teluh. Saya 
mencoba mengusirnya. Tetapi kucing itu menatap saya 
seperti mata ibu saya. Katanya, dirinya adalah roh saya 
sendiri yang sedang sakit. Ia mohon agar bisa tidur 
dalam kamar saya. Saya tak tega mengusir kucing itu.
Bulu-bulunya seperti kenangan saya pada kasih sayang.

Malam berikutnya saya mulai terganggu. Keluhnya 
berbau darah. Ia mulai menginap dalam pikiran saya. 
Setiap malam, seperti ada rumpun gelap dalam diri saya, 
menyerupai kucing yang sakit itu. Suara gaib di depan 
pintu. Setiap malam, seperti ada pohon nangka yang 
berjalan-jalan dalam tubuh saya, menyerupai kucing 
yang mengaku sebagai roh saya yang sedang sakit itu. 
Akhirnya saya membunuh kucing itu. Menjerat lehernya 
dengan tali plastik. Matanya seperti kematian yang 
mengetuk kaca jendela.

Besok pagi saya temukan mulut, telinga dan lubang 
hidung kucing itu telah mengeluarkan tanah, berwarna 
merah. Rumput-rumput tumbuh di atasnya. Saya lihat 
ikan-ikan juga telah berenang dalam perut dan tengkorak 
kepalanya. Dan seperti seluruh surat kabar, matahari 
tidak terbit pagi itu.

1997
"Afrizal Malna"
Puisi: Kucing Berwarna Biru
Karya: Afrizal Malna

Posting Komentar

0 Komentar