loading...

Sajak tentang Kemelut

Manakala matahari membakar laut-laut
dan ikan-ikan sembunyi di pukat harimau
manakala matahari membakar gunung-gunung
dan petani sembunyi transmigrasi
manakala matahari membakar kota-kota
dan manusia hangus dalam polusi budaya
manakala matahari membakar cinta
dan perempuan-perempuan manis menjadi pedang bermata dua
siapa menangis-siapa tertawa
siapa bernyanyi-siapa berdoa.

Maka menyatulah debu dan asap dupa
maka menyatulah lumut dan buih laut
maka menyatulah prahara dan angina kembara.

Di bawah putih kaki-NYA
di bawah ufuk pandang-NYA
siapa-siapa memberi makna.

Jakarta, 1979
"Puisi: Sajak tentang Kemelut (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Sajak tentang Kemelut
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top