Tiga Lembar Kartu Pos

1
Soalnya kau tak pernah tegas menjelaskan keadaanmu, tak pernah tegas mengakui bahwa harus menyelesaikan perkaramu dengan-Ku. Suratmu dulu itu entah dimana, tidak di antara bintang-bintang, tidak di celah awan, tidak di sela-sela sayap malaikat. Masih Kuingat benar: alamat-Ku kau tulis dengan sangat tergesa, Kubayangkan tanganmu gemetar tanda bahwa ada yang ingin lekas-lekas kau sampaikan pada-Ku.

2
Kau dimana kini? Sebenarnya saja: pernahkah kau tulis surat itu? Pernahkah sekujur tubuhmu mendadak dingin ketika kau lihat bayang-bayangKu yang tertinggal di kamarmu?

Mungkin Aku keliru, mungkin selama ini kau tak pernah merasa memelihara hubungan dengan-Ku, tak pernah ingat akan percakapan Kita yang panjang perihal topeng yang tergantung di dinding itu.

Bagaimanapun Aku ingin tahu dimana kau kini.

3
Anakmu yang tinggal itu menulis surat, katanya antara lain, “...alamat-Mu kudapati di tong sampah, di antara surat-surat yang dibuang Ayah; hanya sekali ia pernah menyebut-nyebut nama-Mu, yakni ketika aku meraung karena dihalanginya mengenakan topeng yang ...”

Rupanya ia ingin mengajak-Ku bercakap tentang mengapa Aku sengaja memberimu hadiah topeng di hari ulang tahunmu dulu itu.

Siasatnya pasti siasatmu juga; menatap tajam sambil menuduh bahwa kunfayakun-Ku sia-sia belaka.

"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Tiga Lembar Kartu Pos
Karya: Sapardi Djoko Damono

Post a Comment

loading...
 
Top