Disumpahi Jabatan

Burung tekukur menyampaikan bunyi
Yang bagaimana manafsirkannya
Bila bergesekan dengan semak ilalang di ujung halaman
Yang tumbuh liar, mempermainkan cahaya
Di beranda pendopo rumah seorang pensiunan
Lihat dia sedang menghitung perimbangan
Huruf hidup dan huruf mati, dalam ucapan
Sementara anak-anaknya mengikat gugusan kata benda
Di atas meja ukir kayu jati marmar bundar bentuknya

“Sesudah ibu kalian tak ada,” kata
Lelaki yang lumpuh kiri itu seraya
Memainkan tangkai rem kursi roda
“Sesalku seperti bayang-bayang tak habis mengejar
Matahari lepas waktu asar
Imaji yang goyang bergoyang secara gaib
Matahari tergelincir masuk magrib
Kursi roda ayah menggulir ke timur mata angin
Pedalaman penuh kabut dan angin dingin...”

Dia menatap anak-anaknya di sekitar meja marmar
Semua siap dengan tameng penangkis huru-hara
Garis-garis fana mencuat dari lampu gantung tua
Berkas guratan yang diikhtiarkannya bulat sempurna

“Sesalku bagai geraham berbisul di distal kiri
Dengan elemen nyeri tak tercantum di senarai patologi
Seraya melepasku memenuhi panggilan bandar udara
Terimalah tembakan mitraliur pengakuan ayahmu ini
Testamenku dulu kubatalkan sama sekali.”

Ke sekitar meja marmar dia melayangkan mata
Semua anak menaikkan tameng penangkis huru-hara
Menutup pandangan agar tembakan tak terkena

“Ayah tak tahan dikejar bayangan ibu kalian
Tentang kebersihan rezeki debat berkepanjangan
Sejak masih hidup, sampai jadi ruh sudah tiga bulan
Dari dulu mamamu tak habis mempertanyakan
Setiap habis mengurus sertifikat atau bentuk usaha apa
Atau ekaun di bank yang menggelembung tiba-tiba
Kami selalu bertengkar diam-diam tapi runcing dan tajam
Kamu semua tak tahu orangtuamu lama terancam perceraian
Tapi selalu mengalami penundaan demi penundaan
Sungguh semua itu sandiwara nyaris sempurna
Menunggu dulu anak-anak selesai sekolah
Lalu menunggu anak-anak selesai kuliah
Kemudian menanti anak-anak satu-satu menikah
Lalu menunggu datangnya cucu-cucu
Yang ternyata setiap satu lucu-lucu
Sementara itu karir ayah melesat maju
Eselon demi eselon, jabatan dami jabatan
Lalu meja kerja yang masuk dalam fokus tembakan
Di kabinet, sebuah kursi jati ukiran, seperti sudah disiapkan
Kalian jangan terkejut ibumu apa kalian kira gembira
Jangankan sujud syukur, dia malah istigfar tiga kali
Mas, kata ibumu, aku khawatir jangan-jangan kamu nanti
Disumpahi jabatan.”

Ke sekitar meja marmar dia melayangkan mata
Semua anak menurunkan tameng penangkis huru-hara
Membuka pandangan menatap mata ayah mereka

“Kata ibu kalian, keluarga kita sudah terlampau kaya
Sebagai pegawai negeri, sangat menyolok mata
Walaupun ditutup-tutupi ketahuan senantiasa
Ketika bermuka-muka tentu orang enggan bicara
Waktu itu pada ibumu ayah marah luar biasa
Isah, jangan itu diulang juga, ayah berkata
Di semua eselon kawan-kawanku berbuat serupa
Yang lebih menyolok lagi banyak pula
Tetapi ibumu membantah tetap berani saja
Cuma di depan anak-anak kami seperti tak ada apa-apa
Tapi di dalam kalbuku pergolakan luar biasa
Kemudian ibu kalian meninggal tiba-tiba.”

Burung tekukur kini berbunyi-bunyi lagi
Pesan apa dari pohon sawo dan semak ilalang ini
Keletak kuda andong dan bel beca yang aneh sunyi

“Testamen ayah dua tahun lalu, kini kubatalkan total
Rumah di Kemang, Bintaro, Blok M, Tanah Sareal
Jalan Den Pasar, Warung Buncit, Menteng dan Kuningan
Usaha pom bensin, apotik, bengkel mobil dan percetakan
Angkutan antar pulau, helikopter berikut konsesi hutan
Jasa asuransi, rumah produksi lalu studio rekaman
Ruko, rental video, kios internet yang disewa-sewakan
Pabrik kosmetik, jamu tradisional serta biro konsultan
Tanah di Pluit, Karawaci, Bogor Baru dan Batam
Deposito di Jakarta, Singapura dan Amsterdam
Delapan atau sembilan perusahaan berbentuk saham
Apartemen di Johor Bahru, San Francisco dan Boston
Yang semuanya akan kalian terima sebagai warisan
Kini aku batalkan secara keseluruhan
Dan penjualan itu semua disegerakan
Sekitar satu triliyun dalam taksiran penjumlahan
Lalu pikirkan cara kepada bangsa dikembalikan
Dan jangan satu rupiah pun singgah ke tangan kalian.”

Burung tekukur, sepasang, mengirimkan bunyi
Hinggap pada cakrawala suara tanpa bayang-bayang
Pesan apa dalam panorama ketika ditanyakan makna

“Kini berikutnya inilah yang ayah risaukan
Tentang asal usul pembiayaan pendidikan kalian
Bertujuh anak bertahun-tahun dikirimkan
Ke Pantai Barat, Pantai Timur, Texas dan Michigan
Ibumu dulu sebenarnya tak setuju modus begini
Karena terdedahnya nampak jadi menyolok sekali
Kalian memegang kartu kredit emas bahkan nyetir Ferrari
Demikianlah kalian dapat S-1, S-2 sampai Pi-Eic-Di
Semua berasal dari dana taktis, hasil Komisi dan Upeti
Sangat jelas tak mungkin berasal dari struktur gaji
Ayah sebenarnya lebih memajukan kepentingan diri sendiri
Rahasia negara bagi ayah kecil tak berarti
Selama itu bisa terhadap mata uang dikonversi
Rakyat pun hanya kata benda dalam kalimat melengkapi
Ayah menerima kickback dengan mata tertutup kanan dan kiri
Dari para pemasok proyek bertimbun-timbun hadiah dan upeti
Ayah bekerja tidak jujur tapi berhasil mengkreasi imaji
Citra pekerja keras, lugu dan populis sejati
Tapi di muka ibumu ayah tak bisa berpretensi
Dan ibumu tak bangga kalian sekolah di luar negeri
Dan untuk membersihkan kekotoran rezeki ini
Ayah tak mungkin mengembalikan dengan bekerja lagi
Ayah minta ampun dengan istigfar Nabi Yunus beribu kali
Semoga ayah terlempar ke luar dari sumur dalam segelap ini…”

Ketika semua anak-anak menitikan air mata mereka
Mendengar pengakuan sang ayah yang begitu terbuka
Aib keluarga yang disimpan sudah demikian lama
Kini sunyi penuh tensi diisi cahaya datang dari mana
Berbunyilah burung tekukur mungkin dengan  makna
Sang ayah capek bicara, terkulai di sandaran kursi roda
Ketika itulah Maut pelahan melayang membawa nyawanya.

1998
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Disumpahi Jabatan
Karya: Taufiq Ismail

Post a Comment

loading...
 
Top