loading...

Di Kastil Terakhir
- Cerita untuk Dulcinea

Ia menghitung umurnya
dari cermin
pada pintu kastil terakhir,
lalu menetakkan pedangnya
ke permukaan yang
menakutkan itu.

"Selamat tinggal."

Kaca itu pun menghilang. Dan ia
melangkah ke luar.

Di bentangan ladang gandum, ia lihat gulungan jerami
telah disusun, berjajar,
seperti nisan ke arah bukit.

Waktu itu belum terasa matahari.
Hanya pagi yang merayap
di pohon-pohon gabus.

Pagi adalah depresi yang dingin, Dulcinea,
juga ketika daun menahan kegaduhan burung
pada ulat mati: rangsang-rangsang yang tak akan
kekal,
seperti ingatan makin pendek
yang menyentuh kita.

"Kau harus pergi," laki-laki itu bergumam,
"kau harus pergi dari sini."

Ia mungkin lelah. Ia semakin tahu cinta yang tak
pernah jelas telah ditahbiskan jadi mimpi, dan mimpi
telah ditahbiskan jadi dosa, dan ia takut, atau mungkin
malu, untuk kembali ke kastil itu.

Ketika matahari mulai
tampak, ia pun bersandar
pada perisainya yang tak
lengkap. Ia dengar sarapan
disiapkan. Bukan untuknya.
Ia ingin tidur.
Ia bayangkan di kedai itu,
seseorang mengoleskan selai
pada roti dan pada serbet
meja terbentuk huruf sisa
negasi dinihari.

2010
"Puisi: Di Kastil Terakhir (Karya Goenawan Mohamad)"
Puisi: Di Kastil Terakhir
Karya: Goenawan Mohamad

Post a Comment

loading...
 
Top