loading...

Kami Mendengar Nyanyian

Pagi ini kami mendengar nyanyian dalam sebutir telur: kami berdiri di bawah sebatang pohon tua, ranting-rantingnya ranggas. Aku ini sebutir nyanyian, tak ada burung yang berani mengeramiku. Sudah sekian lama kami menunggu kabar itu; kami harus berangkat pada hari ketika kabar itu sampai. Tak ada di antara kami yang berani menerka bahwa mungkin kabar itu ada di dalamnya. Ketika matahari sepenggalah ranting-ranting pohon mulai bertunas, sekujur pohon penuh luka, masih kami dengar telur itu, kalian bukan milikku, kabar itu hanya bermakna bagiku. Tetapi kami tidak tuli. Adakah telur yang yang bertugas merawat keheningan dalam nyanyian? Ketika sore hari akhirnya tiba kami saksikan matahari terakhir berkilau kemerahan di ujung telur itu. Kami tak berani membayangkan apa yang terjadi jika cahaya itu nanti tiada, jika matahari tinggal berupa aroma mawar, dan tak ada kabar. Aku ini sebutir nyanyian, tak ada burung yang akan mengeramiku, dan rupanya kami pun harus tetap menunggu sepanjang malam berdiri di bawah pohon yang mendadak menjadi begitu rimbun. Mungkin kabar itu tiba besok pagi, ketika pohon meranggas dan kami mendengar telur itu kembali.

"Puisi: Kami Mendengar Nyanyian (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Kami Mendengar Nyanyian
Karya: Sapardi Djoko Damono

Post a Comment

loading...
 
Top