Tentang Seorang Penjaga Kubur Yang Mati

Bumi tak pernah membeda-bedakan, seperti ibu yang baik.
Diterimanya kembali anak-anaknya yang terkucil dan
membusuk, seperti halnya bangkai binatang, pada
suatu hari seorang raja, atau jenderal, atau pedagang,
atau klerek - sama saja.

Dan kalau hari ini si penjaga kubur, tak ada bedanya. Ia
seorang tua yang rajin membersihkan rumputan,
menyapu nisan, mengumpulkan bangkai bunga dan
daunan; dan bumi pun akan menerimanya seperti ia
telah menerima seorang laknat, atau pendeta, atau
seorang yang acuh-tak-acuh kepada bumi, dirinya.

Toh akhirnya semua membusuk dan lenyap, yang mati tanpa
genderang, si penjaga kubur ini, pernah berpikir:
apakah balasan bagi jasaku kepada bumi yang telah
kupelihara dengan baik; barangkali sebuah sorga atau
am punan bagi dusta-dusta masa mudanya. tapi sorga
belum pernah terkubur dalam tanah.

Dan bumi tak pernah membeda-bedakan, tak pernah
mencinta atau membenci; bumi adalah pelukan yang
dingin, tak pernah menolak atau menanti, tak akan
pernah membuat janji dengan langit.

Lelaki tua yang rajin itu mati hari ini; sayang bahwa ia tak
bisa menjaga kuburnya sendiri.
  
"Puisi: Tentang Seorang Penjaga Kubur Yang Mati (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Tentang Seorang Penjaga Kubur Yang Mati
Karya: Sapardi Djoko Damono

Post a Comment

loading...
 
Top