loading...
Hari itu


Hentakan nafas yang memburu hembusan kenangan manis, mengangkat utuh keistimewaan cinta yang begitu lama tersembunyi. Kita. Bertemu denganmu hari itu; di persimpangan hari itu, membuatku takjub betapa sungguh sempurna Skenario Tuhan.

Senyumanmu, tatapanmu, keheningan suasana yang aduhai membibit di hatiku yang lama tandus ini. Kita. Bertemu denganmu sore itu; di perbatasan hari itu, mencumbuku ber-angan; agar selamanya kita terpaku di sana.

Entah kemarin yang sedikit lebih buruk, atau hari ini yang sedikit lebih baik. Mataku yang jatuh padamu, hatiku yang menanggung deritanya.

Entah aku yang sedikit terlambat bertemu denganmu, atau engkau yang sedikit lebih cepat bertemu dengannya. Mataku bersujud memuja keadilan cinta, hatiku tersungkur menangisi ketidakadilan cinta.

Dan semenjak hari itu, bayanganmu bersemayam teduh di mataku; bernaung indah di sebuah bingkai di hatiku. Pemikiran sering menerjemahkan, mengapa aku tidak pernah bisa mengusir jauh bayangan itu, mengapa aku tidak bisa berbuat banyak untuk itu? Pemikiran itu.

Tiba aku di sini di hari ini, dengan semua kesombongan yang aku pikul bersamaku, aku kira aku sudah melupakan. Tapi itu... tapi itu hanya sebelum aku jujur pada diriku sendiri.

Dan entah seberapa jauh dosaku karena mencintaimu, aku bahkan malu memohon ampun, dan pada siapa? Karena ketika aku menutup mataku, aku hanya akan kembali berdosa karena hanya akan selalu mencintai bayanganmu. Dan hatiku? Saat hatiku menenun pengharapan, aku hanya akan selalu menuju pada tatapan indahmu itu; hari itu.
 
"Puisi: Hari itu"
Puisi: Hari itu
Oleh: Arief Munandar

Post a Comment

loading...
 
Top