loading...
Malam di Kota Khatulistiwa


Bulan membayang di pelabuhan yang tak capek-capek.
di dermaga.
Mesin kapal gemetar mempermainkan sinar lampu
warna-warni.
Berkelok-kelok di kilatan lidah sungai kapuas. Sebentar
lagi bau ikan segar akan beredar. dari keranjang di
gudang kapal ke daratan
dijunjung punggung kuli-kuli ke tenda-tenda pasar.
"Jangan lewatkan malam dingin sendirian abang..."

Di sudut-sudut deretan toko-toko tutup. Warung-warung gelap
menyediakan kopi pangku, bir dan bau bedak.
Seorang reserse mabuk
sepatunya mengkilat mulutnya basah. Ada losmen di dekat
situ, pilih mana suka. Yang rok mini atau tanpa beha -
Yang gemuk hangat langsing sintal atau susunya besar.
"Cuma sepuluh ribu abang..."

Wilayah ini tak tercantum di buku-buku panduan untuk
turis. Peta kota kita sangat indah dan indah. Kota kita
terdiri dari jalan raya
gereja masjid kelenteng vihara kantor gubernur taman
kota toko-toko souvenir restoran masakan tradisional
museum air terjun dan
taman makam pahlawan. Kota kita sangat indah dan lebih
indah. "Ayolah seteguk lagi abang...."

Ayolah, sebelum toko-toko buka sebelum hari baru.
Sebelum bau nangka
durian sawi tahu tempe ikan asin dan petai dan rebung
bambu dan
belacan dan tempoyak menguasai pasar ini. Sebelum kota
ini ganti baju kehormatan dan hukum yang lain.
"Tanggalkan celanamu abang!"


28 Desember 1996
"Puisi: Malam di Kota Khatulistiwa (Karya Wiji Thukul)"
Puisi: Malam di Kota Khatulistiwa
Karya: Wiji Thukul

Post a Comment

loading...
 
Top