Balik Kamu Balik


Balik kamu balik
Baliklah kami ke daerah mewahmu.
Belailah kembali renda-renda alas mejamu.
Tidurlah kembali di seprai linenmu.

Balik kamu balik
Jadilah patung di depan TV-mu.

Mereka tinggal di rumah tanpa watak.
Yang perempuan kering yang laki botak.
Mereka takut pada fantasi.
Mereka takut pula telanjang.
Dengan kaku mereka duduk di kursi.
Badan dan si jiwa selalu berjurang.
Hidup mereka seperti pepatah.
Serba diatur serba diarah.
Dan tutur kata serta buah pikiran mereka
berbau karbol.
Mandul tanpa jiwa.

Balik kamu balik.
Seretlah pergi slogan-sloganmu.

Balik kamu balik.
Aku ludahi undanganmu.
Sekretarismu cantik tapi cengeng.
Kantormu mirip kuburan Belanda.

Balik kamu balik.
Aku tak doyan bahasa bukumu.
Hidup bukan ilmu hitung;
penuh rahasia, penuh hal tak terduga.
Tak mungkin dijabarkan dalam dogma.
Tak mungkin disederhanakan dengan doktrin.
Ilham-ilham dalam kehidupan
takkan bisa diatur oleh kebijaksanaan
yang doktriner.
Kelokan-kelokan pengalaman kehidupan.
takkan bisa ditebak oleh dalil-dalil komputer.

Demikianlah selalu sudah sejak dahulu.
Ada yang malas.
Ada yang rajin.
Yang malas rindu pegangan.
Yang rajin rindu kesempatan.

Demikianlah selalu sudah sejak dahulu.
Ada karang dan ada lautan.
Ada yang teguh.
Ada yang mengembara.

Balik kamu balik.
Aku tak suka tata riasmu.
Kamu memuja cat
dan tak mengerti tentang alam.

Balik kamu balik.
Omonganmu datar dan fana.

Balik kamu balik.
Tak usah kita berpacaran.
Rayuanmu penuh klise.
Ciumanmu terlalu sopan.

Balik kamu balik.
Hidupku repot lantaran kamu.
Kamu usung adat dan tata cara.
Bahkan di ranjang dan di kamar mandi.

Balik kamu balik.
Tak usah kita berjamahan.

Ketika matahari muncul dari timur.
Sayur-mayur mengembangkan daun-daunnya.
Dan sambil menatap mega
yang penuh pergantian rupa.
Di saat seperti itu
aku mengepakkan lengan-lenganku.
Ingin terbang
memasuki rahasia warna-warna.
Telingaku mendengar
sendok berantuk dengan garpu.
Para wanita menyiapkan sarapan
Hidungku mengendus bau anak-anak
menyongsong hari sekolahnya.

Kepada hidup.
Aku mengembangkan kedua lenganku.
Di antara yang rutin
menyusuplah fantasiku.

1972
"Puisi: Balik Kamu Balik (Karya W.S. Rendra)"
Puisi: Balik Kamu Balik
Karya: W.S. Rendra

Post a Comment

loading...
 
Top