loading...

Renungan Tua

I
Laut temaram
muram di bawah hujan
perahu sepi
mengapung sendiri
jauh pesisir
dari taksir
ada yang menggelepar
di kota bandar
sementara semak bakau
hilang dari rawa pesisir
saat pulau kecil hendak dilangsir
renungan bencana
laut dan darat sepi.

Telah diminum air kembang waru
telah dikulum daun dewa
sepotong kayu manis dan buah pala
cengkeh tujuh biji pengharum aroma
telah dilantunkan doa-doa
sampai semarak kata di para-para
kursi semakin rapuh
dari subuh ke subuh
alam semesta yang ibu
telah menghukum pelanggar tabu
renungan mengabu.

II
Umur-umur terus bergulir
mengantar jaman anyir
orang-orang merunduk pada sang pandir
jaman telah berubah
bendera dalam jiwa berwarna putih merah
O, kini gaman mencari tuannya
tiap mimis jadi bumerang
mengirim tangis jadi gerimis
tanah perdikan semakin amis
tersandar di ruang kosong doa kepompong.

Kota-kota semakin gaduh
jiwa-jiwa semakin melempuh
seorang perempuan sisa peradaban
menimang bayi kering di pangkuan
tembangnya mengiris sisa rembulan 
beraksi dalam hati bergerigi
ada harap tak sembunyi dari pijar
ada mimpi tak berhenti dari fajar
sementara peradaban mencari muara
perlahan menuju arah balik purba.

Bogor
September, 2000
"Puisi: Renungan Tua (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Renungan Tua
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top