Hijrah

Dari Mekkah
dengan wajah memerah
mentari melepas kami
di sebelah kanan
purnama siap sudah
mengawal dengan gairah
Bebatuan dan pasir
di kiri-kanan jalan seperti ikut berdzikir
Di atas kendaraan mewah berpendingin
di jalan mulus tanpa hambatan
dalam kenyamanan dan rasa aman
kami melaju bagaikan angin
dihela rindu kami kepada tuan

(Jauh di belakang
kulihat tuan berdua
tertatih-tatih di atas onta tua
melawan badai dan debu Sahara
alam azab perjalanan
dalam kejaran setan-setan
hanya berbekal keyakinan
menggenggam kebenaran
ditunggu penuh rindu
oleh kaum beriman)

Tak terasa
kerlap-kerlip kota Madinah
telah tampak menyambut kami yang gelisah
Tak seperti penduduknya yang resah
menanti kekasih yang dirindukan,
kedatangan kami tak ada yang merasakan

(Mereka menanti tuan dan bergegasan
menuju perbatasan
gadis-gadis kecil kegirangan
menyanyikan tahniah kesayangan
Thala'al Badru 'alainaa
min Tsaniyaatil Wadaa'
wajabas syukru 'alainaa
maa da'aa lillahi Daa'
O, gembiranya!
O, syukurnya!
Gulita mendapat purnama
Dahaga memperoleh air telaga)

Lihatlah, kami tak seperti mereka
Tak segera menghadap paduka
Kami masih sibuk memilih-milih kamar
untuk beristirahat agar badan tetap bugar
Kami sangat mencintai diri kami sendiri
melebihi cinta tuan kepada kami
O, keterlaluannya!
O, taktahumalunya!

(Seribu kali tuanku lebih lelah dari kami
tapi tuanku menerima seadanya
berhenti di mana onta tuan berhenti
istirah di gubuk Abu Ayyub yang sederhana)

Ashshalaatu wassalaamu 'alaika
Ya Sayyidie ya Rasulallah!

Hari ini perkenankanlah kami menghadapmu, tuan
dengan segala malu dan rendah diri
Kemurahanmu, ya Rasulallah yang membuat kami berani
Kami datang dari negeri yang jauh sekali
yang rata-rata penduduknya
mengenal nama tuanku dan mengaku
mencintai tuanku melebihi lainnya
seperti mereka semua
pengakuan kami pun kiranya
baru sebatas mulut saja

Ashshalaatu wassalaamu 'alaika
Ya Sayyidie ya Rasulallah!

Kami sangat ingin tahu adakah paduka
mengamati juga
umat paduka di seberang sana
yang rajin berselawat sambil terus berdurhaka
terhadap paduka
Kasih-sayang yang tuan ajarkan
dengan dalih mencintai tuan
mereka gantikan
dengan kebencian
Mereka bertakbir lebih lantang
Tidak seperti tuan,
tidak dengan ketawadhukan
tapi dengan amarah dan nada menantang
Tidak seperti tuan,
mereka tidak menghimpun kawan
tapi memperbanyak lawan
Tidak ramah tapi marah
Tidak mengajak tapi menolak
Tidak membangun tapi merusak

O, Rasul-arrahmah!
O, Rasul kasih-sayang!
Kami bersaksi paduka telah menyampaikan
ayat rahmatan lil 'alamien itu
Kami sempat merasakan
kebenarannya melalui murid-murid salehmu
tapi kini apa yang dapat kami katakan
kebanggaan dan kecongkaan musyrikin Qureisy
ya Allah, telah menulari sebagian umatmu yang tak beres
Rahmatan lil 'alamien
mereka ganti dengan laknatan lil ‘aalamien

Ashshalaatu wassalaamu ‘alaika
Ya Sayyidie ya Rasulallah!

Sungguh kami ingin tahu
adakah seperti jasadmu
cahya kasihmu telah meninggalkan kami
O, malangnya umat ini
kalau begitu!
O, malangnya!

Ya Rasul, maafkanlah kami
Maafkanlah umatmu yang lemah ini
Kami menjadi panik dan bodoh
setelah ajaran ditinggalkan contoh

Ya Rasul, kami ingin seperti paduka
Hijrah tapi ke mana?

Madinah
13 Februari 2007
"Puisi: Hijrah (Karya Mustofa Bisri)"
Puisi: Hijrah
Karya: Mustofa Bisri (Gus Mus)

Post a Comment

loading...
 
Top