loading...

Ibu Kopi

Malam saya terbuat dari jalanan kampung
yang basah, hujan yang baru saja mati,
rindu yang hampir kedaluwarsa,
sepi yang tak lagi berfungsi,
dan seorang penjual kopi
yang mondar-mandir mendorong gerobak kopinya.

Sendok kopi memukul-mukul cangkir kopi
dan suara kopi memantul-mantul
di jidat para penggemar kopi
yang sedang berjuang melawan kantuk  dan lupa.

Harum kopinya terbuat dari harum darahnya.
Hitam kopinya terbuat dari hitam nasibnya.
Ia masih muda, sekian tahun yang silam
diambil negara di sebuah huru-hara,
dan sampai sekarang masih dicari-cari oleh ibunya.

Sendok kopi memukul-mukul cangkir kopi.
Saya datang mau membeli kopi,
tapi si penjual kopi tak ada. Saya hanya
bertemu dengan gerobak kopinya.
Saya hanya mendengar suaranya:
“Minumlah kopiku sebagai kenangan akan daku.”

Malam saya terbuat dari jalanan kampung
yang basah, hujan yang baru saja mati,
dan seorang ibu yang berjalan sendirian
mendorong gerobak kopi anaknya.
“Selamat malam, Bu. Semua kopi menyayangimu.”

2014
"Puisi: Ibu Kopi (Karya Joko Pinurbo)"
Puisi: Ibu Kopi
Karya: Joko Pinurbo

Post a Comment

loading...
 
Top