loading...

Perempuan itu Bernama Ibu

Kupanggil ia ibu seluruh waktu,
perempuan dengan kebaya di ladang.
menanam benih berabad menyebar dan menuai,
tak mengerti mengapa tak menolak segala,
mengapa menggigil dalam igau dan tak meronta.

Ibu yang tak membaca buku-buku
dan tak menonton iklan layanan.
berdiri di luar gedung pertemuan
dan tak terlihat di antara kerumunan unjuk rasa.

Ia sendiri membajak sawah,
menyebar benih dan menuai kesunyian.

berabad kupanggil ia ibu kesunyian.
mengeja erangan sendiri yang bisu dan kosong,
membaca dongeng lelaki yang menempelkan dengus di
zakarnya.

ibu yang tak menangisi kekecewaan
menerima dengan dekapan tulus
dengan pangkuan hangat
sepuluh Rahwana yang memburunya.

kupanggil ia Ibu
perempuan yang menyimpan satu birahi untuk Rama yang
menolaknya.
menerima kobaran api dan rintihan yang mengalirkan kesucian
cinta.

Berabad kupanggil ia ibu,
yang sendirian dan menangis.
menanti benih-benih berabad tak tumbuh menjadi kehidupan
ilalang liar dan gundukan tanah dengan rumput
kering. kupanggil ia ibu yang berias daun bayam
menanak tiwuk untuk seratus bocah lapar
dan memulas dahaga dengan harum keringatnya.

kupanggil ia ibu
yang bercermin gerimis sepanjang musim
menghitung jembar sawah berhektar
dan kebun rimbun kebajikan.

aku menangis melihat seribu lelaki
memperkosaku tak henti-henti.

Maret, 2000
"Puisi: Perempuan itu Bernama Ibu (Karya Dorothea Rosa Herliany)"
Puisi: Perempuan itu Bernama Ibu
Karya: Dorothea Rosa Herliany

Post a Comment

loading...
 
Top