Cucian Kotor Suatu Pagi

Hidup mungkin bisa berubah - kata orang. Rupanya ada asbak jatuh dari meja, abu dan puntung rokok terserak: Aku jatuh cinta pada seorang lelaki. Hidungnya berair, suaranya melengking seperti asbak pecah, 5 menit yang lalu. Tetapi ia sering mengejekku dalam Bahasa Inggris. Tahu, aku tak bisa bertengkar dalam bahasa itu, setelah penjajahan yang lalu: Negeri-negeri dunia ketiga yang tak bisa menjual jagung. Hari berlalu, asbak yang lain jatuh, juga tak mudah membuat persahabatan Kedengkian jadi tak terduga, menyuruh orang berhenti di sebuah tikungan, menjelang jam 7 malam. Ada tetangga di situ, menunggu nasib di depan pintu, seperti seorang nyonya menyimpan diri, dalam 130 kilo berat badannya.

Suatu pagi - hidup mungkin bisa berubah, seperti seseorang yang menyentuh tubuhnya dalam genangan sabun: "Tak ada lagi kata yang bisa dihayati, di sebuah tempat, tanpa melihat jam dinding." Kota memang telah meninggalkannya, jam 6 pagi yang lalu. Cucian kotor menumpuk di situ. Lalu setiap benda yang disentuh terasa bersabun, seperti hidung lelaki itu.

Suatu pagi, cucian kotor itu menghias koran-koran, berita-berita nasional, surat pembaca, busa sabun yang berjatuhan dari tangan. Dan sebuah puisi, yang dibaca orang lewat kecemasan.
1995
"Afrizal Malna"
Puisi: Cucian Kotor Suatu Pagi
Karya: Afrizal Malna

Post a Comment

loading...
 
Top