loading...

Mesin Penghancur Dokumen

Ayo, minumlah. Tidak. Saya tidak sedang es kelapa 
muda. Makanlah kalau begitu, tolonglah. Tidak. Saya 
tidak sedang nasi rames. Masuklah ke kamar mandi 
saya, tolonglah kalau tidak haus, kalau tidak lapar, 
kalau bosan makan. Perkenankan aku memberikan 
keramahan padamu, untuk seluruh kerinduan yang 
menghancurkan dinding-dinding egoku. Bagaimana 
aku bisa keluar kalau kamu tidak masuk.

Kamu bisa mendengar kamar mandiku memandikan 
tata bahasa, di tangan penggoda seorang penyiar TV. 
Perkenankan aku membimbing tanganmu. Masuk
lah di sini yang di sana. Masa kini yang di masa lalu
Masuklah kalau kamu tak suka tata bahasa. Tolonglah 
kalau begitu, ganti bajumu dengan bajuku. Mesin 
cuci telah mencucinya setelah aku mabuk, setelah 
aku menangis, setelah aku bunuh diri 12 menit yang 
lalu. Bayangkan tubuhku dalam baju kekosongan itu. 
Tolonglah bacakan kesedihan-kesedihanmu:

“Kemarin aku bosan, hari ini aku bosan, besok akan 
kembali lagi bosan yang kemarin.” Apa tata bahasa 
harus diubah menjadi museum es krim supaya kamu 
tidak bosan. Tolonglah. Semua yang dilakukan atas 
nama bahasa, adalah topeng api. Pasar yang 
mengganti tubuhmu menjadi mesin penghancur 
dokumen. Tolonglah, aku hanya seseorang dalam 
prosa-prosa seperti ini, seorang pelancong yang 
meledak dalam sebuah kamus. Sebuah puisi murung 
dalam mulut mayat seorang penyair. 
Tolonglah, tidurkan aku dalam kesunyianmu yang 
tak terjemahkan. Mesin penghancur dokumen yang 
sendirian dalam kisah-kisahmu.


"Afrizal Malna"
Puisi: Mesin Penghancur Dokumen
Karya: Afrizal Malna

Post a Comment

loading...
 
Top