Muara

Muara yang tak pernah pasti sifatnya selalu mengajak laut
bercakap. Kalau kebetulan dibawanya air dari gunung,
katanya, "Inilah lambang cinta sejati, sumber denyut
kehidupan. "Kalau hanya sampah dan kotoran yang 
dimuntahkan ia berkata, "Tentu saja bukan 
maksudku mengotori hubungan kita yang suci, tentu 
saja aku tak menghendaki sisa-sisa ini untukmu.

Dan ketika pada suatu hari ada bangkai manusia terapung 
di muara itu, di sana-sini timbul pusaran air, dan 
tepi-tepi muara itu tiba-tiba bersuara ribut, "Tidak!
Bukan aku yang memberinya isarat ketika ia tiba-tiba
berhenti di jembatan itu dan, tanpa memejamkan 
mata, membiarkan dirinya terlempar ke bawah dan,
sungguh, aku tak berhak mengusutnya sebab bahkan
lubuk-lubukku, dan juga lubuk-lubukmu, tidaklah 
sedalam...

1973
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Muara
Karya: Sapardi Djoko Damono

Post a Comment

loading...
 
Top