Sandiwara, 1
(untuk Yudhis)

Masih ada sebuah lampu panggung menyala; jaga malam itu
tertidur, lupa mematikannya
enam ratus kursi kosong menonton sepi yang lebih perkasa
dari cicit kelelawar
beberapa mikrofon yang tergantung di panggung seperti
mendengar kalimat yang tak boleh diucapkan di
tengah-tengah para tahanan yang berteriak-teriak itu,
"Apakah sudah meyakinkan permainanku sebagai sipir
bisu ini, Paduka?"
seperti semakin lantang suaranya -


Sandiwara, 2
(
untuk Putu Wijaya
)

Mula-mula adalah seorang lelaki tua di panggung, di atas
kursi goyang. Meja, kursi, kopi yang sudah dingin,
lampu gantung, dan surat-surat bertebaran di lantai.
Bergoyang-goyang.

Ia bergoyang sambil mengutuk beberapa nama yang tak kita
kenal, mengejek kursi dan surat-surat itu - dan kita
ketawa

Mendadak ia berdiri dan masuk - dari dalam ia
memanggil-manggil nama, tanpa sahutan. Kursi masih
bergoyang-goyang. Tapi kenapa kita ketawa?

Bahkan ketika suaranya terdengar semakin serak dan lampu
semakin redup - kursi itu tetap bergoyang. Kita,
penonton, harus pulang sebelum sempat lagi ketawa.

1976
"Puisi Sapardi Djoko Damono"
Puisi: Sandiwara
Karya: Sapardi Djoko Damono

Post a Comment

loading...
 
Top