Tamu Misterius

Sayang sekali puisi ini telah dihapus ketika aku akan 
membacanya. Seperti udara lembab yang menarik lenganku 
untuk memegang yang akan jatuh. Ada apa dengan menghapus? 
Lem, gunting, benang yang membuat bayangan tentang kawat 
berduri. Aku menghapus kata, hapus dari dokumentasi, seperti 
keluar dari kawat berduri itu. Kembali ke lem, gunting, benang 
dari setiap kata untuk menyembunyikannya, menghilangkan dan 
menghapusnya sekali lagi. Dan sebuah ketukan tak pernah 
terhapus.

Tamu itu menduga aku tidak memiliki kursi untuk mati, jika 
tidak memiliki lantai untuk hidup. Menunggu. Ditunggu. Janji 
jam tujuh malam. Ia suguhkan kata penghapus dari sebuah toko 
buku kepada tamunya, seperti bayangan yang terlepas dari 
tempatnya. Kamu tamuku yang aku tunggu dari kesalahan 
mengetik kata hapus dari sebuah cerita tentang pagi hari 
yang cerah. Kau sudah tidak sempat lagi merapikan yang tidak 
bisa lagi dihapus, setelah puisi ini. penghapusnya membuat jam 
5 sore, tembus hingga tak terlihat lagi kekosongannya.
"Afrizal Malna"
Puisi: Tamu Misterius
Karya: Afrizal Malna

Post a Comment

loading...
 
Top