Catatan Mei

I
Bunga yang tumbuh dari bercak darah
tercecer antara Salemba dan Semanggi
nebar aroma Mei simpan gejolak harap
yang kian menipis
karena berhala-berhala berlintasan
di musim perubahan
sambil tak henti hentakkan linggis.

Bunga yang tumbuh dari lembar mozaik jiwa
raungkan perubahan dari waktu ke waktu
sampai hilang semua saudara
yang tersisa hari ini hanya catatan
dan syair-syair jalanan
dulu dibaca dari kampus ke kampus
membuat impian muda akhirnya jadi kukus.

Ingatkah, ikrar itu ditandai darah
janji itu dipatri bulan merah
musim-musim penantian tak bertuan
we, Jakarta ditelan kepongahan sendiri
jalan raya menjadi kali
tapi kau di mana, anakku
ini Mei sudah datang lagi.

II
Siapa malam-malam memanggil semesta
yang ibu, menunjukkan jiwanya yang
berubah warna, dari pelangi jadi kelabu
karena disaput asap bulan Mei lalu
saat manusia berubah dalam dua warna
dan dua nama, yang satu kepompong hilang daya
yang satu dajal pemangsa
langit terbakar
kota-kota mangkok ambyar
jiwa-jiwa terbabat dengan sendirinya
bertemperasan mencari cakrawala.


"Puisi: Catatan Mei (Karya Diah Hadaning)"
Puisi: Catatan Mei
Karya: Diah Hadaning

Post a Comment

loading...
 
Top