loading...

Catatan Sepercik Banjir

Hari ini aku ulang tahun. Tapi Jakarta banjir lagi, dan aku terjebak di jalan tol. Tapi hari ini aku ulang tahun. Apakah banjir juga perlu ulang tahun? Langit gelap dan bulan yang kesiangan tersedu di balik awan kelabu. Tapi hari ini aku ulang tahun. Apa kau tak tahu. Tolong nyanyikan happy birthday, atau lagu-lagu cinta yang membara, bukan lagu-lagu patah hati itu. Bukan lagu banjir meluap, bukan lagu sampah Ciliwung yang menumpuk di ruang tamu rumahmu.

Hari ini aku ulang tahun, tapi hujan tak reda-reda dan banjir makin merata di jalan-jalan raya. Hari ini aku ulang tahun. Masih adakah tempat yang romantis dengan harga terjangkau dompet penyajak? Masih tersisakah ruang hijau yang tak tergenang air hujan? Hari ini aku ulang tahun, tapi lagi-lagi kamu menyanyikan lagu patah hati itu, lagu melankoli yang meriwayatkan hidup burammu sendiri.

Hari ini aku ulang tahun. Ah, apa pedulimu. Ulang tahun hari ini, esok atau lusa, sama saja. Banjir tetap menelan Jakarta. Lihat wajah gubernurmu yang makin kecut dan tak dapat lagi tertawa. Mungkin ia pun lupa ulang tahunnya. Hari ini aku ulang tahun, dan lagi-lagi banjir menelan Jakarta. Ah, itu baru sepercik, katamu. Monas masih menjulang, dan belum tersentuh bongkahan emasnya.

Hari ini aku ulang tahun, dan mungkin juga kau, dalam rasa sepi dan patah  hati lagi. Ya, akhirnya kudengar juga suara tangismu dalam gemuruh banjir oarta sajakku. Sungguh, ingin kuusap air matamu, tapi banjir telah menghanyutkan sapu tanganku!


Jakarta
17 Januari 2014
"Ahmadun Yosi Herfanda"
Puisi: Catatan Sepercik Banjir
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda

Post a Comment

loading...
 
Top