Ode Prajurit Tanpa Nama

Bendera-bendera berkibar di udara.
Burung-burung bernyanyi di dahannya.
Dan orang-orang berteriak “telah bebas negeri kita”.
Tapi aku tertatih sendiri.
Di bawah patung kemerdekaan yang letih.
Dan tersuruk di bawah mimpi reformasi.
Kau pasti tak mengenaliku lagi.
Seperti dulu,
Ketika tubuhku terkapar penuh luka.
Di sudut stasiun Jatinegara,
Setelah sebutir peluru menghajarku dalam penyerbuan itu.
Dan negeri yang kacau mengubur riwayatku.
Dalam sejarah berdebu.

Setengah abad lewat kita melangkah.
Di tanah merdeka,
Sejak Soekarno-Hatta mengumumkan kebebasan negeri kita.
Lantas kau dirikan partai-partai.
Juga kursi-kursi di atasnya.
Tapi kau kini menjelma konglomerat berdasi.
Penguasa yang merampas kemerdekaan rakyat sendiri.
Gedung-gedung berjulangan.
Hotel-hotel berbintang, toko-toko swalayan,
Jalan-jalan layang,
Mengembang bersama korupsi, kolusi, monopoli, manipulasi,
Yang membengkakkan perutmu sendiri.
Sedang aku tetap prajurit tanpa nama,
Tanpa tanda jasa, tanpa seragam veteran,
Tanpa kursi jabatan, tanpa gaji bulanan,
Tanpa tanah peternakan, tanpa rekening siluman,
Tanpa istri simpanan.

Bendera-bendera kini berkibaran lagi.
Dan sambil bernyanyi “padamu negeri”.
Kau bagi-bagi uang hasil korupsi.
Sedang aku tertatih sendiri.
Letih dibakar matahari.


Jakarta
Agustus, 1996
"Ahmadun Yosi Herfanda"
Puisi: Ode Prajurit Tanpa Nama
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda

Post a Comment

loading...
 
Top