Para Pengungsi dalam Tenda yang Terlalu Tenang

Aku ingin bercerita padamu
suara rendah dan hati-hati di lantai goyah
wajahku tak berani menatapmu
agar kau tidak berada dalam lampu sorot siaran berita
atau sebuah titik sunyi dari sejarah yang patah
mencari bentuk akhir dari pelarian yang terus pecah
goyah, lalu setiap berita sibuk
membersihkan lantai yang berantakan

Aku ingin bercerita tanpa lampu
dalam kegelapan yang terus membantah suara yang sibuk
mencari bentuk – dan tanah yang dijarah
selimut yang basah oleh air laut – angin dingin
dan bintang-bintang sirna dalam cahayanya

Lampu aku matikan. hanya suara
apakah bahasa ikut padam. aku berbaring
mata aku pejamkan. apakah kau telah padam

Suara mobil melintas datang lagi dan pergi lagi
kenangan tanah ibu di bawah mesin perampokan masa kini
suara serangga terdengar dalam gelombang konstan
telinga membuat struktur dari keributan di luar
menjadi di dalam keributan
aku buka mataku
cahaya bulan mengabaikan bingkai jendela terakhir
membuat batas gelap dan terang
gerombolan-gerombolan di luar dan di dalam kematian

Lampu aku nyalakan. udara mengirim kenangan
lampu aku matikan. apakah cerita bisa padam
aku berbaring. mata aku pejamkan

Tetapi bisik-bisik terus menyala
gerombolan bertopeng terus merampokku
penunggang kuda dengan pedang menikam bahasa
bahkan merampok kebisuanku
apakan ruang ketika angin berhembus – (tetapi tak terlihat)
ketika waktu terus bergerak maju – (entah kemana)

Aku ingin bercerita padamu, persis seperti email yang kau tulis
untuk kami: “sebuah tempat untuk berhenti telah hilang
malam ini. dan kita siapa waktu tidur.”


"Afrizal Malna"
Puisi: Para Pengungsi dalam Tenda yang Terlalu Tenang
Karya: Afrizal Malna

Post a Comment

loading...
 
Top