loading...

Terkapar dari Seberkas Puisi yang Membunuh

Luka mendekamku
laharnya menggumpal menggerayangi darah
Luka memasungku
jelma keringat tubuh menjerit
darahku api dan keringatku air

Kini tiba oktober yang ke sepuluh
ingatanku kembali meleleh 
melepas kebisingan dengan tuak
yang membawaku pada jalan yang lebih gelap
semangatku tersayat, pada kabar yang kau kirim
dari bibir angin yang jatuh di lubang telinga
dulu, aku ingin mengukur bintang
agar sesuatu itu tak pernah runtuh
setiap berkali kali ulang kau berucap
darahku api dan keringatku air

diberingin tua terpahat namamu bergurat oktober
ratapan kepedihan menunggu kematian
dengan dupa dan kemenyan kau bacakan ritual kematian
kau bingkis upacara dengan bunga bunga melati
tersusun rapi menjadi hiasan kalung di lerhermu

Oktober yang ke sepuluh kau membunuh dengan puisi
akupun bersimpuh dengan tangisku sendiri
darahku api dan keringatku air

Madura 10 0ktober 2013
"Deni Puja Pranata"
Puisi: Terkapar dari Seberkas Puisi yang Membunuh
Karya: Deni Puja Pranata

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||

Post a Comment

loading...
 
Top