Bisnis

header ads

Puisi: Pelajaran Kincir Angin

Pelajaran Kincir Angin

Mencintaimu dengan setulus-tulusnya, wahai angin
sama halnya mencintai kawan kaum papa lagi miskin 
sebab dinding-atap serupa mimpi yang paling ingin
saat takdir memaksanya jadi nakhoda tanpa kabin

tak pernah kukutuk bibir yang menyebut baling-baling
meski kelahiran bermula dari angin yang memusing
bukan mesin yang berulang-ulang mencumbui bearing
atau pembakaran fosil yang kini berwajah asing

kami menyandarkan hidup dari tiupan demi tiupan
lalu bekerja menghela dua roda yang bersinggungan
seperti ladang subur dengan bibit yang disebarkan
namun rutin kami sirami meski tiada hujan

kami percaya bahwa setiap pekerjaan
bermula dari perubahan yang pelan-pelan
maka belajarlah dari siput yang bertahan
dari invasi musuh dan ancaman kelaparan

kami percaya bahwasanya setiap upaya
berdetak dari kesahajaan yang tak percuma
maka renungilah pohon tumbang usai dibantai
membusuk lalu mewariskan jamur-jamur pengurai

karena begitulah lahirnya kesempatan
bukan buah dari penantian-keberuntungan
melainkan dari peristiwa demi peristiwa
yang semula adalah ihwal biasa

berjuang melepaskanmu dari pelukan gelap
tanpa pernah membangunkan sekelompok asap
adalah misi yang sungguh teramat-amat suci
tanpa memanggul pamrih di lain hari
tanpa mengotori hidung lembut para bayi
anak kecil, maupun ibu menyusui

Oh, betapapun cepat-gigihnya kami berlari
tetap hati kembali di tempat kami mengawali.
Surakarta, 25-28 November 2013
"Puisi Lasinta Ari Nendra Wibawa"
PuisiPelajaran Kincir Angin
Karya: Lasinta Ari Nendra Wibawa

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Posting Komentar

0 Komentar