loading...

Perjalanan Penyair

Dari Banjar Tegal ke Jawa
cukup lama istirahat di Salemba
orang mengira umurku hilang empat ribu hari
di bawah sepatu serdadu jantungku diam dalam semadi
menyambut matahari dan bulan merajut harkat manusia
penyair digoda puisi, menuliskannya di ruang hampa.

Jika aku ke Menara Tour Eiffel, lewat Australia bahkan
ke Taipeh, Hongkong, Srilangka, Banglades dan
istirahat di Jerman
kupetik puisi Aborijin melepaskan keterhimpitan
dan di Berlin temboknya aku goyang bersama
pipis di kaki Tour Eiffel, maaf sahabatku
dendam anak petani yang melangkahi bayang
batas kemiskinan.

Untuk itu, di Kramat Lima
strum dan sepatu serdadu mengulang dera
tikus lapar menggigit nyala.
(Sarsa waktu itu engkau baru empat bulan
dan endah istriku belajar memahami kekejaman)

Perjalananku, perjalanan penyair hangat di pelukan sahabat
kendati istriku menidurkan dalam kemanjaan
(Sedangkan intel ulat bulu jatuh di tempat tidur)
dan perkara jatuh cinta
seperti tunas dirangsang alam dan daun kuning
yang harus jatuh.

Telah penat aku menyaksikan pembunuhan 32 tahun
tapi pas-photoku masih juga diganti kepala kambing hitam
penyair membakukannya dalam perjalanan
kata-kata, titik dan koma mewariskan kegelisahan
kembali menjadi manusia
pucuk bambu menari dalam topan.

Perjalanan penyair melangkahi keterbatasan
geliat kegelisahan percik api kemanusiaan
sejenak aku beristirahat dalam pelukan kesejukan.

Jakarta
Juni, 1999
"Puisi Putu Oka Sukanta"
PuisiPerjalanan Penyair
Karya: Putu Oka Sukanta

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post a Comment

loading...
 
Top