loading...

Surat untuk Bunda

Bunda, setiap hari aku mendengar suaramu
dari kejauhan, dari radio juga angin Banten
dan wajah cantikmu menghiasi jalan-jalan
tidakkah kau tahu,
kami amat rindu dekap hangat
untuk mengusir beku embun
yang menghinggapi mimpi.

Tapi tiga pemilu telah terlewati
engkau kian lupa diri, tak lagi peduli
kau kerap menyebut kami "anak" atas namamu
tapi sedetik pun kau tak sudi menatap derita kami

Airmata kami bunda, kau jadikan alas bedak
dada legam kami kau jadikan alat semir sepatu

Jerit kami terendam di antara tumpukan parit
terbakar, kobarannya melahap gubuk-gubuk
tempat tinggal anak-anak yang kau telantarkan
dan engkau bunda, sibuk bersolek di depan kaca.

Dengarkanlah...
sebelum butiran embun menjadi letupan api
dari hari ke hati, sepi suara-suara politik
di sini, telah tersaji sepiring nasi aking
mari kita nikmati dengan canda tawa.

Jika engkau terus asyik mengumbar janji
anak manis ini bisa menjadi durhaka
dan meludahi wajahmu di atas podium
sebelum segalanya terlambat
datang, datanglah dan temui kami
dalam kebodohan dan kelaparan.

Cilegon, Banten
29 November 2011
"Puisi Muhammad Rois Rinaldi"
PuisiSurat untuk Bunda
Karya: Muhammad Rois Rinaldi

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post a Comment

loading...
 
Top