loading...

Surat untuk Tegal

Kutulis surat ini, ketika suaramu
sudah tak dapat kudengar, ketika
langkahku menjauh. Sedangkan suara
paraumu hanya memantul
di dinding-dinding gedung
yang gigil oleh angin malam.
Tapi sungguh, kelak entah kapan,
aku akan datang lagi ke
pantaimu yang (meski muram)
masih menyimpan berlaksa
kenangan yang kusimpan
di ruang ingatan paling dalam.

Lampu-lampu kota yang terpasang
di setiap sudutnya sungguh
menyilaukan mata, seolah-olah
ingin berceloteh tentang
ambisi para penguasa. Aku hanya
terpaku mendengar ceracaunya
sembari menyeruput teh
di lesehan Yanti, depan Pasar Pagi.
Semua sudah mafhum adanya,
rakyat kotamu, di setiap pemilu
kenyang dijejali janji-janji
yang entah seperti apa nanti.

Di Perpustakaan Mr. Besar
kita pernah merancang sebuah
perampokan atas angka-angka
yang mereka susun, sejak di tangan
badan perencanaan pembangunan daerah
sampai badan anggaran.
Kita akan tanggalkan semua
agenda tahunan yang cuma
menghamburkan uang rakyat.
Kita akan bius para pembahas
rancangan peraturan daerah,
dan kita sembunyikan palu sidang.

Di Pendapa Ki Gede Sebayu,
simbol kota paling agung,
sembari menikmati gending
mahakarya dan tarian endel
kita pernah memilin harapa
ntentang kota yang praja
yang sejahtera dalam segala.
Sepakat melupakan dosa-dosa
para pejabat yang pernah
berurusan dengan KPK.
Merintis lagi langkah dari awal
demi rakyat bahari.

Sebentar lagi kotamu akan berpesta
memilih sesiapa yang hendak menerima
amanah seluruh warga. Pandangilah
lekat wajah-wajah mereka. Pilih salah
satu yang paling puisi. Niscaya dia ëkan
memimpin dengan hati.

Magelang, 2018
"Puisi Joshua Igho"
PuisiSurat untuk Tegal
Karya: Joshua Igho

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||

Post a Comment

loading...
 
Top