loading...

Menuju Jalan Khalwat

Perisai perangku telah remuk oleh gada musuh
dan rusak berantakan pagar di muka halaman rumah
rusak juga tanaman-tanaman yang menyenangkan mata
kembang kana kembang negriku khatulistiwa
Tapi aku sama-sama tidak tahu siapa musuh
yang begitu mempermainkan alur takdir
kabur sosoknya meski tampak sinambung geraknya
bagai nyamuk-nyamuk luhya yang tetap mengisap
di hari-hari samanta kemarau Juli-September
tinggal tunggu waktu perutnya pecah oleh darah
jika dua telapak ditepukkan dibekali umpat.

Sementara kupanggil ketabahan mengganti perisai
kalau badai belum reda di selatan
kalau topan masih gila di utara
dan cuaca dimain-mainkan di barat
lantas kita menerimanya sahih di timur
antara pencarian kadasih di penemuan keraguan.

Sebut ungkapan sandi pada wara
setiap angka dalam hitungan jari
dapat menunjuk kemarahan dengan umpat
dapatkah kemarahan menunjuk ketabahan dan reruntuhan

Kupilih jalan sederhana menuju khalwat
merenung betapa 100 kali sambungan tinggi monas
masih kurang dan panjangnya ketinggian satu hati
pada keterbelengguan manusia dengan kesombongannya
Ah, barangkali aku lebih mesum dari nama semua musuh.

"Puisi Remy Sylado"
PuisiMenuju Jalan Khalwat
Karya: Remy Sylado

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post a Comment

loading...
 
Top