loading...

Sajak Lipan Seribu Kaki

Lapar telah menghilangkan sopan santunku.
Maaf aku 
kira darah dagingku belum merdeka.
Lupa 
pekiknya telah bertahun kuucapkan.
Di kelas 
tempat aku ditempa membenci penjajahan.

Apa 
matamu bisa tembusi ceruk sukmaku?
Padahal 
nuraniku dikepung barisan rupiah.
Kusaksikan 
hari ini tiada lagi malu pada kemaluan.
Kalau 
harus ada yang tersisa, cumalah air mata.

Tak 
kering walau ditiup angin 9 penjuru.
Akulah 
lipan, kakiku seribu, terus berjalan.
Tidak 
binasa walau ditindas digencet ditumpas.
Yang 
mengikat pinggangku memang azimat nenek.
Tapi 
namanya cinta kasih - jangan sampai berubah.

"Puisi Remy Sylado"
PuisiSajak Lipan Seribu Kaki
Karya: Remy Sylado

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post a Comment

loading...
 
Top