Bisnis

header ads

Puisi: Semua akan Puitis pada Waktunya

Semua akan Puitis pada Waktunya

Kau pun terasing menyesapi doa orang-orang kalah
betapa hanya yang tak tampak tempat rebah paling 
nyenyak
hingga gemericik terdengar dari rahim hening
lalu kau makin tak paham makna apa gerangan
disampaikan denyut peristiwa.

Kau pun membujur saat dentang jam mensepertigakan 
malam
dan keterasinganmu kian meradang
mencoba bergeming namun kata mengering
mencoba bicara namun mulut hilang suara.

O, apa yang tambat tapi tak tercecap bibir letih
pun zikir-zikir yang tak terhitung biji-biji tasbih
ialah gemericik kausar mengalir dalam kebeningan 
sungai waktu
dan apa yang retap dalam dadamu
pun tak terjumlah kelihnya, ialah detak-detak
yang mendenyut kalbu ibumu.

Semua akan puitis pada waktunya
ketika puisi belum jua sampai dikirimkan kabut
lewat udara hening yang kau hirup
kepada kemarau panjang di mana kau terasingkan
dan pada detik yang sama, ibumu senantiasa berdoa
ludah rapalannya lebih basah dari biasanya.

"Semoga ricik gerimis malam nanti berbisik
kepada kerutan-kerutan keningmu, nak
semoga hujan malam nanti bicara
kepada api yang tak tahan tumpah
dari merah matamu, nak
: bahwa puisi butuh waktu
meruncingkan ujung jarumnya
untuk menusuk degub jantungmu".

Ganding Pustaka, 2015
"Puisi Raedu Basha"
PuisiSemua akan Puitis pada Waktunya
Karya: Raedu Basha

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Posting Komentar

0 Komentar