loading...

Tentang Cedera

Pelan-pelan kita pun terkelupas
seperti kulit kayu yang tak perlu dirontokkan
satu-persatu cahaya pudar saat runtuhannya berpendar
di batas bumi senja yang bisa terjadi lagi begitu saja.

Kita tak punya dimensi lagi
selain belajar pada manisnya gula
dan berguru kepada pahitnya ampas kopi.

Pelan-pelan kita pun sadar 
kematian bukan batas stagnasi
tetapi hidup yang tak bergerak adalah musibah terbesar
yang dialami oleh manusia pemuja sepi.

Inilah catatan yang tak memiliki alur.

22 Januari 2014
"Puisi Raedu Basha"
PuisiTentang Cedera
Karya: Raedu Basha

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post a Comment

loading...
 
Top