Barus

(1)
Tak ada jalan lurus ke Barus
para pengelana telah lama menembus kabut
mencari celah jalan
ke bekas perigi sultan
hendak mereka gali sumber
mata air yang terlelap
berabad-abad
akan mereka nyalakan kandil
dan lampu damar
di rumah-rumah lampu cahaya
yang tiada terkira ruhnya
O, cahaya, demikian mereka yakin,
engkau tak mungkin tinggal rangka
engkau utuh sejak semula
ibarat kapas lepas di udara
lalu hinggap berbagi-bagi
lesap berbagai-bagai
jadi benang jadi kain
jadi renda jadi perca
di dalam tiap nama

Maka mereka dirikan bilik kecil
tempat memuja
cahaya maha cahaya
agar jelas yang dipertuan
di masa ini penuh derita

(2)
Kami, pengelana fana, separoh terang
setengah buta, bertahun-tahun kemudian
menyusul mereka menembus kabut
pedalaman sumatera
mencari secercah jejak yang ditinggalkan
sejarah.

Kami ciumi getah pohon-pohon langka
di sisa hutan bukit barisan
buat mengenal bahasa sumatera
dan batang hayat pohon silsilah

Kau sebutlah namanya: kamfer
itulah pohon hayat leluhur kami
lebih dari sekedar kapur dari barus,
ia kapur dalam barus
bahkan barus itu sendiri
(serupa nafas bukan sekedar udara yang dihirup
tapi hidup dalam hidup), maka disebut ia kapur barus
sebagaimana cahaya yang tak mungkin tinggal rangka,
wanginya pun tak pudar ditiup-hembus udara
sekalipun kota runtuh penuh derita, kapal-kapal karam
ke dasar samudera

O, getah yang mengental dalam pokok batang
adalah darah kami yang dibekukan
kehendak zaman. wanginya hinggap
di tiang perahu dan layar kapal
membawanya pergi jauh
ke lain pulau
ke semenanjung
ujung benua
jadi rempah jadi perancah
di tungku-tungku dapur istana
pengawet ragi kain ibu ratu dan para selir
pengharum ranjang peraduan para sultan
dan kesudahannya merasuk ke kain
para raja
di persemanyam

Apalagi yang dicemaskan?
Pelabuhan besar, bandar berkembang
kota tumbuh bersilang jalan
gudang-gudang dan kongsi dagang
menampung getah darah leluhur kami
hingga siapa pun tahu,
sejak itu, telah ditebang sekalian batang
lebih dari hasrat berladang
getahnya dibawa turun
berbungkul-bungkul, berpikul-pikul
di dalam karung dan kain sarung
dari parliatan, pakkat, kolang, tara bintang,
ona gonjang, parik sinamba, humbang hasandutan
semua dipadatkan dalam lambung
kapal-kapal segala bangsa
dan lambung itu pun menelurkan
keramik antik, barang pecah belah, mata uang dan senjata,
mengeram perangai badai, topan gelombang
penuh amarah
hingga datanglah suatu masa
kapal-kapal angkat jangkar
(atau tak sempat angkat jangkar)
kota hilang dalam semalam
leluhur segala bangsa lenyap
tak tahu rimba

Kami, pengelana fana,
separoh terang setengah buta
tak mengerti. misteri dan sejarah
sama-sama menyimpan labirin dan teka-teki
meski kami dengar cerita tentu
tentang serangan gergasi dari laut
tapi tak tahu makhluk apa gerangan
sebagian menyebut itu raksasa kiriman langit
yang cemburu pada surga di bumi
ada pula yang setuju itu bajak laut terkutuk
menaklukkan kota dan raja, memutus urat nadinya
dan sebagian paham dalam angguk
itu bangsa kulit putih yang berdagang
dengan senjata dan tahta suci

Tak ada yang tahu pasti
hingga bertahun-tahun kemudian
bumi berguncang gunung-gunung berguncang. laut mengelucak
seperti tempayan diayak tangan yang terguncang
lalu gelombang besar, lebih dari amarah topan, menghantam pantai
dan kota-kota yang tidur selepas badai
dan ketika terjaga, semua lenyap seketika
manusia ibarat lalat, dengan satu tepukan,
semua senyap terlepas
beterbangan ke sorga

Kini di bekas pergi sultan yang belum rampung digali
para pendahulu kami (bagi mereka doa puji), kami bermuka-muka
tegak dan berkaca, tegak dan bersila
kami basuh muka dengan cahaya tak bertara
kami nafasi diri dengan wangi
getah darah leluhur kami

(3)
Di pusat makam keramat
papan tinggi seribu tangga
kami pun meninggi
mencari alamat
yang disimpan semesta
turun ke makam mahligai
aksara-aksara gaib
tak usai terbaca
tapi segalanya terkaca
sehening doa. rumput-rumput meninggi
mencari matahari
dalam diri

Nisa patah, nisan-nisan sebulat gada
arab dan india menyatu di tanah sumatera
batu alam kembang teratai
menyila kami bersila, merasa sangsai,
sia-sia, menghadap yang baqa

Lalu nisa tuan Ibrahim dan tuan Mukhudum
di belakang rumah papan setengah bata
dicumbu pucuk enau, dau rumbia
bila malam tiba. tanpa lentera
konon mereka mesra-memesra
satu menggila atas lainnya

“Apa zikirnya wahai, tuan penjaga?”
Memohon kami pada juru kunci
minta amalan perisai diri
tapi ia pura-pura buta, pura-pura tuli
kami pun pura-pura terus meminta
pura-pura terus mencari

“Ah, apa pula kau kata,” katanya akhirnya
bagai memungkas kitab larangan
pelan-pelan ia sarungkan
dekat ke dada

(4)
Di Barus, Hamzah Fansuri jadi wisma
(adakah bilik kecil tempat memuja)
di antara padi menguning, terentang jalan
ke pasar lengang, pelabuhan lama
benteng hitam, gereja dan mesjid tua
tinggal hening, sejak ditinggal Hamzah, si anak dagang
membawa api syair sepenuh badan

Andam dewi, lobu tua
negeri percintaan pada pengelana
tempat menggali perigi sultan yang tertidur berabad-abad
tapi yang didapat: pecahan keramik, guci keramat, manik-manik
dan bingkai kapal tak dikenal. lebih banyak lagi
kapal-kapal ikan di masa kini
dan jala nelayan teronggok lapuk di kolong rumah

Ah, tak kutahu setebal ini kabut perjalanan
mencari silsilah dan api syair
tapi kutahu: puisi adalah tindakan terakhir
seorang penyair
setelah kabut dan jalan-jalan.

Barus-Yogya, 2013-2014 
"Puisi: Barus"
Puisi: Barus
Karya: Raudal Tanjung Banua

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Puisi Jatuh Cinta yang Singkat
Loading...

Post A Comment:

0 comments: