Gambar Oemboel

Sudut pasar malam. Lapak mainan anak
Pak Tua berambut perak
Seseorang menambatkan ingatan
  pada lambang gunung sebuah
tak lupa ia: garis dan warna, kisah dan nama,
bahkan aroma dan angka-angka.

Dan ia sebut, Gunung Kelud,
  takzim-takjub. Seketika, gambar-gambar hidup
melayang sepenuh kenang
tersentuh sendu lampu-lampu
pasar malam. Berkilau
seriang kunang-kunang masa silam:
Gambar buah-buahan, segala hewan.
Panji Semirang, Si Buta & Jaka Sembung
di kepalanya terasa
terus bertarung, terus membubung
serupa angka-angka
yang ia pertaruhkan
dengan teman sepermainan
di kusam tikar rumah kelahiran. Pun Sunan Kalijaga,
sesekali kisah nabi dan orang suci
mereka lempar ke udara
di halaman belakang

tersembunyi
(sebab orang tua adalah si suci lain
mengirim mata-mata kepada anak riang bermain)
tapi gambar-gambar terus melayang
telungkup atau telentang
tetap dinanti
dengan degup lunak jantung kanak
yang mesti belajar keberuntungan.

Siapa beruntung? Gemerincing uang logam
senyaring lonceng sekolah
pelerai permainan, begitu pula ingatannya
di ambang usai pasar malam: Pak Tua
            menghitung hari-hari kalah....

Di kusut rambut perak itu
ia saksikan sekali lagi
gambar-gambar timbul tenggelam,
gambar-gambar oemboel kusam,
berkisah tentang ayah, guru sekolah,
            guru mengaji: mereka yang kalah
di angka tinggi!

Yogyakarta, Agustus 2005


Gunung Kelud (GK) merupakan simbol terbanyak gambar oemboel yang ada di pasaran, khususnya pada tahun 80-an. Penulisan “oemboel” dipertahankan demi merujuk suasana masa lalu.
"Puisi: Gambar Oemboel"
PuisiGambar Oemboel
Karya: Raudal Tanjung Banua

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post A Comment:

0 comments: