Pulau di Balik Pulau

(1)
Setelah laut-Mu tak habis gelombang*
Kami kira akan sampailah kami
di tempat asing yang sebentar biasa
debur ombak, menara patah
ketapang kekasih karang
nyanyian laut yang itu-itu juga
kembali
lalu kami lempar pandang ke seberang
menampak pulau-pulau lain
yang rasanya lebih hijau
buat dijelang

Maka kami pun berangkat, angkat jangkar
lajulah pencalang
ke pulau yang kami kira lebih hijau
rimbun bakau, kelapa dan karang
rumah yang hangat, menunggu
rasa takjub yang cepat padam
jadi abu

Ah, pulau mana lagi? Sama saja
nyanyian laut yang itu-itu juga
kembali
menanti tak habis-habis gelombang
pasang demi pasang
kembali
ada yang hilang

(2)
Ke mana pun kami berlayar kami dihadang
segala yang lampau atau setengah silam
pulau-pulau kekal di lautan
menyimpan jejak nasib pelayaran
yang ditatahkan di karang-karang

Jejak yang terpantul kerlip mercu suar
di jauhan. Kadang terbaca di air jernih
waktu pasang. Di malam larut
ia terkaca di langit
di wajah bulan bundar berkarang

Bagaimana akan kami sentuh semua yang lalu
dan setengah silam? Mercu suar,
menara patah, jernih pasang, bulan
Kami tak tahu. Tapi kami tahu
bahwa di depan ada laut lain
minta dijelang
sebelum angin dan badai tak dikenal
memadamkan satu demi satu
lampu-lampu damar di perahu
satu demi satu
tiang-tiang kapal
tunduk
gemuruh.
Talango-Yogya, 2013-2014


*Laut-Mu tak habis gelombang, judul buku puisi D. Zamawi Imron
"Puisi: Pulau di Balik Pulau"
Puisi: Pulau di Balik Pulau
Karya: Raudal Tanjung Banua

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Puisi Jatuh Cinta kepada Seseorang

Post A Comment:

0 comments: