Sampah-sampah Mengapung

Ini zaman sampah-sampah mengapung
orang-orang gugur di mataku
tiap hari makin banyak yang kubenci
dan yang membenci lebih banyak lagi
masuk, hatiku, kunci dari dalam, kunci yang dalam!
Cuaca semesta sedang buruk
para tukang tenung dan tukang sihir mabuk,
kepayang bayang-bayang kejayaan
tukang kebun tersingkir ke taman-taman api
para penyair bergerombol membincang diri sendiri
hatiku yang terasing menolak teronggok jadi sekilo daging!
“Hatiku, janganlah kau bersedih melihat makhluk-makhluk
yang sekedar penduduk. Mereka hanya penghuni mati
sebuah negeri di bawah garang matahari
tapi tak sanggup membakar sampah-sampah,
basah, berkilau lumpur warna-warni, terapung hanyut
melintasi taman-taman negeri.
Jangan kau bersedih.”
Dengan ini hatiku menyala, melebihi matahari
mengubah sungai dan muara
jadi api, jadi lautan api...

Kalteng-Yogyakarta
2010-2011
"Puisi: Sampah-sampah Mengapung"
PuisiSampah-sampah Mengapung
Karya: Raudal Tanjung Banua

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Loading...

Post A Comment:

0 comments: