loading...

Dialog

Akan selamanyakah awan gelap
akan selamanyakah hujan terus menggarang
kebakaran - pembunuhan dan penyiksaan
di tanah airku?

Semakin aku sendiri di kamarku
di jalanan, di kereta
antara Paris - Amsterdam
antara Amsterdam - Koln
justru kampung halamanku semakin dekat
kepadanya ingatanku semakin tertambat
ingat Chiang Kai-shek, setengah mati inginnya 
berkubur di daratan
tapi malah berakhirnya di Taiwan
dan tetua-tetua di Holland menunggu putusan
bagaimanapun tangan Tuhan
akan mengatakan dan memutuskan.

Jadi, kataku pada diriku
jangan lagilah ingat akan semua itu
di manapun dan kapanpun
yang buruk-buruk itu selalu ada
yang baik-baik itupun tetap mendampinginya
seperti "yang dan yin"
timbal-balik bersatu satu sama lain.

Jadi, kataku berdialog dengan diriku
bila di kamarku aku selalu bersama Tuhan
Dia dengar apa yang kukatakan
Dia tahu apa yang kurasakan
akan ketahuan apapun yang kusembunyikan
tapi Tuhan diam saja, tak mengatakan apa-apa
tak menurunkan mukjizat-Nya
lagi pula apa sih aku ini
yang penuh dosa dan tiap hari
menumpuk dosa.

Barangkali Tuhan senyum-senyum saja
"lucu ini anak manusia
ada-ada saja yang dipikirkannya
ada-ada saja yang dimintanya
doanya selalu buat kepentingan dirinya sendiri",
barangkali begitu Tuhan mengatakan
kini kembali aku yang tahu dan merasakan
anehnya dan gilanya aku toh tak malu-malu
tak jera-jera
walau di kampungku terus hujan - gelap
kebakaran dan kemiskinan
petir gledek sambar-menyambar
anehnya dan gilanya aku tetap sadar.

Paris, 7 Oktober 1999
"Puisi: Dialog"
Puisi: Dialog
Karya: Sobron Aidit

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Baca juga: Kumpulan Puisi 3 Bait Singkat

Post a Comment

loading...
 
Top