Bisnis

header ads

Puisi: Kesaksian (Karya Maskirbi)

Kesaksian

Orang-orang bersumpah, menyaksikan bencana lalu menyimpan dendam di dada yang terluka. Di langit yang berdarah. Orang-orang menangis sambil menggali kuburan sendiri. Orang-orang terpaksa membungkam untuk menyelamatkan kebenaran. Tapi bencana semakin di rancang untuk orang-orang lemah dan malang.

Orang-orang semakin sukar memilih hak dan bathal segalanya telah di redam. Lalu sebagai sumber kecurigaan, orang-orang ketakutan menyebut nama sendiri, tak ada yang berani mencegah bencana demi bencana, tak ada lagi lelaki dan sebagai suami, semuanya dicurigai, semuanya dihabisi. Orang-orang Cuma bisa menyaksikan kebiadaban peradaban dan ketakberdayaan, sambil menantikan kematian yang sia-sia.

Malaikat menangis, menyaksikan maut yang dirampas, menyaksikan darah yang menetes dari langit. Orang-orang Cuma bisa berdoa, agar Tuhan menghentikan bencana yang disulut dari moncong senapan. Disini tak ada lagi tempat mengadu, kecuali kepada Yang Maha Tahu.

Lalu orang-orang menyimpan kesaksian dalam diam, lalu orang-orang menyimpan dendam dalam kesaksian, lalu orang-orang menyimpan dendam dalam diam, orang-orang menyimpan kesaksian.

Orang-orang menyimpan dendam, dalam diam dan kedukaan, dalam duka yang diam;
Masya Allah!
Diam membatu
Dendam membatu
Orang-orang bersumpah!

1990
Puisi: Kesaksian
Puisi: Kesaksian
Karya: Maskirbi

Baca juga: Kumpulan Puisi Pendek W.S. Rendra

Posting Komentar

0 Komentar