Menerima Surat (1)
(- Sajak buat Ayah)

Ini adalah langit, membentang dalam gigil
siapa tidak gemetar saat panas tidak bisa diatasi
juga dengan kangen yang menumpuk di ubun-ubun
tahun-tahun kita rajut dengan air mata
tanpa sempat menelan makna enaknya kegembiraan

Tapi dengan begitulah kita tetap berdiri
pada sisi yang kita yakini
tanpa harus terperosok dalam sejumlah lubang
yang memfatalkan hidup dan kenyataan
kita berdiri pada rumah kita sendiri
tanpa sedikitpun menyentuh halaman orang lain
apalagi merebutnya.

Jakarta, 5 Januari 1998

Menerima Surat (2)
(– Kepada Dianing)

Kita menjala langit dengan keyakinan
dengan tanda tanya yang belum sempat kita pecahkan
namun segalanya kita buat jadi roti dan kopi pagi
hingga kita merasa nikmat menyantapnya
tanpa harus tersentak dengan kenyataan-kenyataan pahit

Segalanya telah kita siapkan: Air mata, luka,
bahkan kematian
karena dengan begitulah kita terbebas dari prasangka
dan ketakutan-ketakutan
sebab pada gilirannya memang kita harus tunduk
pada sejumlah suratan
setelah pintu-pintu telah tertutup

Sekarang kita nikmati saja waktu
tanpa susu, tanpa gula
sebab hidup memang harus dimulai
dari sebuah titik nol
dengan begitulah kita menyadari benar
segala yang bernama perjuangan,
apa yang disebut pengorbanan

Kita santap saja hari ini seperti melumat puisi
tanpa perlu memikirkan pulau atau rumah-rumah
yang telah kita rencanakan.

Jakarta, 6 Januari 1998
Puisi Mustafa Ismail
Puisi: Menerima Surat
Karya: Mustafa Ismail

Baca juga: Kumpulan Puisi tentang Gempa Bumi dan Tsunami

Post A Comment:

0 comments: