Menulis di Pohon

Aku menulis di pohon tentang mangga tua
baunya ke mana-mana.

Ubanmu tak lagi menyanyikan lagu-lagu dari aksara biru
ia kini jadi batu. beku. pilu.
jadi etalase yang membuat kepalamu ditumbuhi lumut
dan pohon-pohon palma

Kau berjalan seperti siput
menyusuri huruf-huruf bunting di gang becek itu
bak pelacur rindu ciuman

Aku menulis di daun-daun
tapi jangan sebut aku penyair ranting
yang segera luruh diterpa angin

Aku adalah mata rencong
yang siap mencukur ubanmu yang cemong,

melesap sampai di matamu
yang selalu menghijau di depan selembar daun
dan membiru di lautan

di pohon, aku mengamini
cericit burung dan cahaya senja
yang memerah setiap kau alpa

Kau terus mengasah pisau berkarat
untuk memangkas akar-akar yang makin kekar
menjalari perut bukit dan kampung-kampung

Kau membayangkan tentang pulau-pulau
dengan para penyair yang risau
puisi-puisi menjadi kayu api untuk memanaskan kopi

O, pohon tua yang tak lagi tumbuh
dengan ranting yang mulai patah
segeralah berjalan ke barat bersama sore yang lindap

dan di sini, meskipun bukan ruang berpendingin
dengan gelas-gelas kopi yang berdenting,
puisi tetap tumbuh dan abadi

seperti daun, seperti pohon.

Depok
23 April 2017
Puisi Mustafa Ismail
Puisi: Menulis di Pohon
Karya: Mustafa Ismail

Baca juga: Kumpulan Puisi Renungan Gempa Tsunami

Post A Comment:

0 comments: