Nonlis dalam Sajakku (I)

Tak ada satu jalanpun yang akan mempertemukan
Tak ada ruang dan nafas
Tinggal getar dalam dingin sejarah
Bangku-bangku berdebu
Dan pucuk-pucuk pohon yang menjulang angkasa

Derap siang, panas merambati rasa
Tak ada jalan yang mempertemukan
Kecuali harum dan warna itu
Yang terbawa sepanjang waktu
Yang merapuhkan usia perlahan-lahan

Tak ada satu jalanpun untuk bertemu
Bahkan untuk bertegur sapa
Barangkali kenangan yang enggan pergi
Setelah itu

Angin siang berbaris di rerantingan
Melepas gugur daun hati.
Mei, 2009


Nonlis dalam Sajakku (II)
Ketika waktu tinggalkan rumahmu
biarlah gema menyisakan desau angin (di beranda)
siangpun menaiki rahasia matahari, menyerap sedih para lelaki
(entah dimana) suara burung menjauh dalam isyarat pertanda kematian
seperti airmatamu mengalir di jendela
membawaku dalam kenangan
membawaku dalam alir darahmu
seharusnya, seluruh nyanyian berkabung tidak kusimpan untuk perpisahan
untuk luka yang melebar.
Banda Aceh, 24 Agustus 1996


Nonlis dalam Sajakku (IV)

Kalau hujan membawa lekat debu dari tangkai daun
engkau masih saja menghias rekah senyum bunga-bunga
melayari kolam mataku dan bersemanyam dalam debar dada
Kalau hujan membawa lekat debu dari tangkai daun
kenapa kau tak beranjak dari dinginnya
biar cahaya tinggal di jendela
jadi mantera cinta
jadi siksa dunia?
Sehabis hujan membawa lekat debu dari tangkai daun
kesunyian memanjang di udara!

Nonlis dalam Sajakku (V)

Begitulah cinta yang tulus, ia bisa memberikan kita harapan dan kebangkitan semangat untuk meraih lebih. Meraih impian dengan kerelaan hati dan aku tak melihat hal seindah ini, selain beriringan menggenggam tanganmu

Kembang-kembang yang mengalirkan wangi
Udara pagi yang memanjang di daratan kalbu

Kau selamanya milikku, seperti kau selalu mengingatku dalam setiap debar hati
Begitulah yang kau catat, begitulah yang kau kirimkan padaku sepagi ini.
Dan kita reguk keajaiban itu.
Februari 14, 2009


Nonlis dalam Sajakku (VI)

Kalau daun-daun sepanjang jalan itu masih mengirimkan gerisiknya di dahan-dahan, engkaukah itu? menyusup harum dari rambutmu
Berkilauan di cahaya pijar lampu-lampu yang tak lelah menerangi gelap hati

Semakin riuh itu debaran, himpitan keinginan mendekap
Atau seperti wangi dari sawit kampung jawa lama yang mengejarku sepanjang harap
Berjuta terawang dari wajah-wajah yang berlalu.

Kalau jarum-jarum masih menusuk ini rasa, engkaukah itu 
Mengembara dalam dingin dan bau magis banten lama
Sementara berapa beranikah aku menyapa
Bahkan berkata-kata?

wahai itu harum begitu lekat dan dekat
bahkan ia menatap dari seberang mataku
dari dalam diriku sendiri

ketika daun-daun sepanjang jalan itu masih mengirimkan gerisiknya di dahan-dahan
aku kembali menutup hati
menutup hari dalam helaan nafas-Mu
Mei 3, 2009
Puisi: Nonlis dalam Sajakku
Puisi: Nonlis dalam Sajakku
Karya: Doel CP Allisah

Baca juga: Kumpulan Sajak dan Puisi Chairil Anwar

Post A Comment:

0 comments: