Rumah

Aku
menyaksikan telaga di matamu
tempat segala pandang rubuh. Aku
hanya ingin sebuah rumah berisi mawar
sepanjang perjalanan menyebarkan harum
bagi setiap pendatang yang dititipkan Tuhan pada kita
bukan renyai luka di senja hati. Dimanapun
mengais hidup tetap beri arti
pada matahari, dan bulan
biar segala kasih
dan sayang
terisi.

Aku
menyaksikan telaga di matamu
berdoa setiap subuh dan senja menuliskan
mimpi yang kita riwayatkan bagi anak dan cucu
tentang nasib seperti sungai mengalir ke laut
lalu bersama merakit hati di hulunya walau terkadang dikepung lara
berujung getir, kita tak bergeming dalam pekat dan sansai
bersama menyulam kalbu dalam kabut. Saksikan
anak-anak menghidupi api di kepala. Rindu
tersayat, perihnya bersarang
di hati.

Aku
menyaksikan telaga di matamu
membuat rumah tempat kita berteduh selamanya
walau berjalan dalam kabut. Tak usah
ajarkan aku bagaimana mengalahkan
sepi. Pernahkah engkau menikmati
sunyi dalam keramaian, seperti
sembilu menyayat jiwa. Tak usah
ajarkan aku bagaimana menikmati
cinta. Tak usah ajarkan aku bagaimana siang dan malam
tanpa bintang bergasing atas kepala. Tak usah
ajarkan aku bagaimana bulan purnama dan sabit hilang
dalam pekat terkadang gerimispun menepi
di pipi.

: Mari aku rabakan sayang dan cinta agar gelap merayap pada tepi, Ah!

Padang Panjang, 2017
Puisi: Rumah
Puisi: Rumah
Karya: Sulaiman Juned

Baca juga: Kumpulan Puisi Kangen Mama

Post A Comment:

0 comments: