Terbakar

Bulan itu pun sampai padaku
Dengan keriangan Ibrahim menari menjemput
Merasai api Namrud
Di luar badan udara kemarau merajam
Dalam tubuhku api itu mulai padam
Tinggallah kerdip cahaya membesar
Disulut ruh kemurnianku yang berlagu
Runtuhlah debu-debu yang setahun melekat
Ke asalnya airmata meratap :

"Pembakaran ini, Kekasih
Pejalan sunyi telah membakar belukar
Dalam diri. Menjadikan taman
Yang tak lagi berpenghuni ular
Yang dulu menggodai Adam Hawa. Taman
Yang menjanjikan damai itu"


Maka terbakarlah juga gagak yang bersenggak
Mengincar tubuh sebelum lepasnya ruh
Lalu menggelepar diri dalam tari pada
Malam-malam penuh sujud ini
Tarawih bersama bintang-bintang
Lalu berumah dalam sajak
Sajak yang kemarin pengap harap tapi
Melulu menjerit. Terbukalah
Kini tanah baru yang dijanjikan kitab itu
Di mana tinggal pohon-pohon kuat akarnya
Dan daun malamnya melambai hingga jendela surga
Dan berbisik :

"Pembakaranku, Kekasih
Pejalan sunyi memetik mawar makna
Kembali ke akar, menemui dirinya sendiri
Asal segala ikhwal ; ruh yang terbaca bening di antara
Pelupuk mata, jendela membuka, bulan memijarkan mega
Dan keringat dan airmataku menetesi
Hati, menyebut satu-satu Nama-nama-Mu

Betapa Kau tak jauh dari urat leherku!"

1995
Puisi: Terbakar
Puisi: Terbakar
Karya: Abdul Wachid B. S.

Baca juga: Kumpulan Puisi Kesabaran Cinta

Post A Comment:

0 comments: