Kurban

(1)
Makin putih engkau kini
pisau yang pernah berjaya
mencipta liang luka di tubuhku

kukira telah padam hasratmu
setelah punah darah
setelah belulang belaka padaku

betapa bersinarnya engkau ketika itu
betapa terbujurnya aku

engkau tangkas mengupas
fasih mengemas
nyeri hingga ke ulu hati

memang pernah aku cemas
rasa sakit tak mau tuntas
tapi tak sekali gentar aku
pada sangar hasratmu

terhadap meling-runcingmu
sungguh, tak kutundukkan mataku

berilah aku jeda sebentar
hendak kuterangkan kulitku
akan kupejalkan daging-dagingku
agar lebih mujur nasibmu

(2)
Kami tahu,
ini bukan pertarungan
melainkan pembantaian

Kami hanya akan menetapkan suatu ukuran
tentang seberapa keji sebuah tikaman
seberapa perih sayatan

ia akan terseok seperti dulu
bersimbah luka melulu
tapi ia akan sembuh dan kembali dipersiapkan

Kami datang untuk selalu memastikan
masing-masing makin matang

(3)
jangan gegabah menduganya
ia tak belajar sabar semata
tak cuma mahir bertahan atas luka
ia makin waspada dan tak terkira

setelah berulang kali kurajang ia
tak kudengar lagi raung regang
atau sekadar sedu
hanya hening menggema

kukira ia akan tak tersentuh kini
meski aku telah sehalus cahaya.

Juli, 2011
Puisi: Kurban
Puisi: Kurban
Karya: Iswadi Pratama

Baca juga: Kumpulan Puisi Rindu
Loading...

Post A Comment:

0 comments: