Merakit Perahu
(: t.w, sebuah kenangan pahit)

perahu yang kurakit di tepi sungai musi
kini sudah berlayar jauh. selamat malam
selamat siang laut, kataku. karena laut
tak punya nyali, maka berkali-kali
aku menipunya.
karena karang, ikan-ikan, tak punya
telinga. aku pun membisikkan tipu daya
tentang dunia. aku sebarkan fitnah
dari hati yang kelabu
di antara orang-orang, aku kembangkan
layar keculasan. di dasar hati orang-orang,
aku jangkarkan kebohongan
di kelimunan orang, aku tancapkan
pisau di setiap punggungnya. setelah itu,
kukayuh perahu ke tengah laut
meninggalkan kutuk dermaga
hanya dengan keculasan, mungkin
perahu ini akan berlayar
lancar. bisik camar,
lumba-lumba, dan...
perahu yang kurakit dari tepi sungai
musi, kini telah berlayar di air
yang abu. dan aku hanyalah penumpang
di sini. sendiri,
tanpa lambaian dermaga
juga lautan dan pulau-pulau.

Lampung-Jakarta
Januari-Februari 2000
Puisi: Merakit Perahu
Puisi: Merakit Perahu
Karya: Isbedy Stiawan ZS

Baca Juga: Kumpulan Puisi Sahabat
Loading...

Post A Comment:

0 comments: