Sajak 4 Seuntai

(1)
kau yang menyelinap diam-diam
seluruh lampu sudah kupadamkan
kita telah memesan malam
dan merumahkan percakapan

(2)
dulu pernah kutanam sebatang cemara
di dadamu yang tenang dan damai
lalu tahun menumbangkan segalanya
tak ada yang tersisa dan sempat sampai

(3)
puisiku bertualang
tak tahu kapan pulang
mereka pergi
mencarimu di setiap sepi

(4)
kau menari di dadaku yang lengang
dengan payung mengembang
air menggenang di sela kakimu
aku mengenang setiap hela nafasmu

(5)
kesedihan tak bisa sembunyi lama-lama
malam ini ia menemu bentuknya yang sempurna
di balik kelopak matamu yang tak terkatup
adalah situ yang bisa jebol sewaktu-waktu

(6)
atau mesti kubuka tubuhku agar terbaca
seluruh rajah yang pernah kautuliskan
kau yang berguru pada sepi masuklah
biarkan malam bungkam selama-lamanya

(7)
jadi beginilah sebatang kayu
menyusur sebatang sungai
mungkin ada di kelokan mengintai
mungkin ada di batu menunggu

(8)
segelas kopi telah pergi
ketika akhirnya aku menemukan
aku yang hampir mati menunggu
di sebuah meja tanpa lampu

(9)
apakah aku mencintaimu
– malam kemerahan
dan wangi musim hujan
apakah aku mesti mencintaimu.

Puisi: Sajak 4 Seuntai
Puisi: Sajak 4 Seuntai
Karya: Gunawan Maryanto

Baca Juga: Kumpulan Lomba Cipta Puisi Terbaru
Loading...

Post A Comment:

0 comments: