Puisi: Gerimis Jatuh di Kota yang Rapuh Karya: Isbedy Stiawan ZS
Gerimis Jatuh di Kota yang Rapuh

Senja kering. Lampu saat padam. Kulihat parasmu
menunduk, membuang senyum! Ah! Ini kali baru dimulai
cerita tentang sesuatu yang gelap. Jalan penuh pagar dan
ratusan mulut senapan menganga ketika
gerimis jatuh
di dalam kota yang rapuh

Barangkali, seperti senja yang lain, kota akan
selalu mencatat keluh ini dan merekam parasmu yang
tertunduk. Lantas, malam-malam panjang akan
melelapkanmu. Di antara riuh nyamuk dan kipas angin…

Barangkali, seperti senja yang kemarin, kau
hanya sekali tersenyum. Sesudah itu, gerimis akan
mewarnai parasmu. Gerimis akan merekam suara
belati yang melangkah di tubuhmu,

sampai ke paling gumam:
diam, diam…

Karena itu, sebelum lampu kembali menyala
dan kaca jendela mengirimkan kabar dari dunia lain
peluklah kegelapan ini. Kecuplah keraguan ini. Senja
yang melangkah, yang kering!

10-16 Maret 2002
Puisi: Gerimis Jatuh di Kota yang Rapuh
Puisi: Gerimis Jatuh di Kota yang Rapuh
Karya: Isbedy Stiawan ZS

Baca Juga: Macam-macam Arti Ungkapan
Loading...

Post A Comment:

0 comments: