Puisi: Mencatat Perjalanan Karya: Isbedy Stiawan ZS
Mencatat Perjalanan
(- RS - )

tak ada lagi waktu bertutur. matamu jauh pergi ke palung malam, dan
sesunyi ini kali angin pun mati. tak lagi terdengar desau. hilang
sengau. gigi-gigimu beradu seperti mengunyah batu. sungai mengalir
hingga menghanyutkan tubuhmu. hanya mimpi yang tersangkut
di rumput erat kupegang. “malam ini, sepanjang jalan mimpi, hanya aku
menelan sisa langkah minum anggur sepi: kiranya kau urai
sunyi ini ke dalam dengkur setiap putaran
roda...”

perjalanan panjang, jalan mengelam. lengang berdebam. setiap menatap
depan hati pun berdebar. barangkali kita akan hilang arah, tak pernah
hapal tuju. di hutan malam yang rimbun kusasarkan dengkurmu, tapi
mimpi-mimpimu juga membayang; dengkurmu pula yang mengusikku.
“kita sudah jauh tinggalkan kampung, meski bayang rumah masih
mendengung. entah di mana peluh dibubuh,” aku mendesis. kau
mengiris selapis-selapis kenangan
ikhwal muli di rumah panggung, adin di kebun, dan atu
yang menguyup di sungai. kau tahu, aku belum juga fasih mengucap
bahasa ibu. terlalu jauh lidahku, bibirku kelu. aguy! apakah begitu
jarak lidah ibu dengan bibirku, untuk menafsir setiap tanda
tak mampu?

kini kau makin tenggelam ke dalam palung malam. udara sesunyi
angin pun mati. gigi-gigimu berpacu. menggergaji setiap kenangan
hendak membayang,
- ini lampung, rinduku membusung -

tapi kita sudah jauh berjalan. tak lupa kampung.

Lampung-Palembang, 5-6 Juli 2008
Puisi: Mencatat Perjalanan
Puisi: Mencatat Perjalanan
Karya: Isbedy Stiawan ZS

Baca Juga: Artikel tentang Travelling
Loading...

Post A Comment:

0 comments: