Kuda Cahaya

Dia hanya kelebat, secepat kilat, tapi rambutnya yang panjang dan pekat, membebat kakiku yang jadi ungu setelah menyebut namamu: Kau yang lebih tinggi dari mimpi, lebih senyap dari sepi, lebih rinai dari bunyi. Dan dengan semua yang berakhir /i/ yang tak juga sampai

di watas wiru ini, ia memenuhi panggilanmu. Mencuci luka juga bunga-bunga yang tak jadi madah.

Menggenapkan sumpah juga rima setia yang masih kubaca dengan terbata-bata, seperti memburu ringkik kuda yang mengantarnya ke padang habbah.

2008
Puisi: Kuda Cahaya
Puisi: Kuda Cahaya
Karya: A. Muttaqin

Baca Juga: Puisi tentang Marah
Loading...

Post A Comment:

0 comments: