Penciuman Gagak

Aku telah mencium bau bangkai
yang begitu nyata. Berhari-hari mendatang
pasti datang perang panjang dan pertumpahan darah.

Tidak. Tidak, saudaraku. Jangan percaya perkutut,
burung salik yang licik itu. Jangan teperdaya
kalung lehernya yang menyerupai butiran berkah.

Kemarin, sang kutilang datang
dari pucuk pohon cemara dan mengabarkan
bahwa perkututlah penghasut puter dan derkuku.

Dari ketinggian sangkarnya, perkutut berkhutbah
burung-burung puter yang memekurkan kur
ter, ter, ter, ter itu pastilah kaum bidah dan bedebah.

Perkutut yakin, itu kur pembangkit berahi antar-sesama.

Itu sebabnya leluhur puter membuang kalung di lehernya.
Itu sebabnya bulu puter lebih kelabu dari bulu derkuku.
Itu sebabnya kabilah derkuku tak sudi mengawini kabilah mereka.

Kini mereka telah bersitegang dan siap berperang.
Petanda buruk telah datang, Saudaraku.
Petanda buruk telah datang.

Pohon zaqqum tengah mengaum. Dan aku melihat burung-
burung besar pencabut nyawa bersiap terbang dari pintu neraka.
Sungguh, aku mencium bau bangkai yang begitu nyata.

2016

Catatan:
Puisi alegoris ini diilhami "Musyawarah Burung" karya Fariduddin Attar, penyair sufi asal Persia di abad ke-12.
Puisi: Penciuman Gagak
Puisi: Penciuman Gagak
Karya: A. Muttaqin

Baca Juga: Puisi tentang Menang
Loading...

Post A Comment:

1 comments: